PENCEMARAN DETERGENT

PENCEMARAN DETERGENT

 

 

PENDAHULUAN

 

Pemakaian detergent akhir-akhir ini meningkat dengan pesat sejalan dengan laju pertumbuhan industri dan populasi penduduk.

 

Detergent digunakan sebagai pembersih, baik untuk pencucian peralatan (cleaning) di industri-industri maupun rumah tangga.

 

Detergent yang masih banyak dan dominant digunakan di Indonesia adalah jenis Dodecyl  Benzen Sulfat (DBS) Based yang mempunyai zat yang sangat sulit terdegradasi (terurai) secara biologis (non biodegradable).

 

Formulasi detergent jenis ini terdiri dari komponen utama Dodecyl Benzen Sulfonat dan senyawa Polyphospat.

 

Dampak yang ditimbulkan oleh pemakaian formula deterjen tersebut apabila dibuang tanpa diolah terlebih dahulu adalah penurunan kualitas perairan.

 

Hal ini disebabkan Alkyl Benzen Sulfonat (ABS) yang sulit terurai dan buih (foam) dari senyawa polyphosphat yang berlebih, sehingga dapat menggganggu proses pelarutan oksigen (O2) ke dalam air dan kesuburan yang berlebih (eutrophycation) di perairan.

 

Umumnya komponen utama penyusun detergen adalah Natrium Dodecyl Benzen Sulfanat (NaDBS) dan Sodium Tri Polyphosphat (STPP) yang bersifat sangat sulit terdegradasi secara alamiah oleh perairan.

 

Akan tetapi senyawa NaDBS dan STPP dapat membentuk endapan dengan logam-logam alkali tanah dan logam-logam transisi.

 

Belum banyak usaha untuk menangani pencemaran perairan yang disebabkan oleh detergent di Indonesia.

 

Di negara maju usaha untuk menangani pencemaran detergent telah dilakukan dengan mensubtitusi komponen-komponen utama formula detergent dengan bahan bersifat biodegradable, yaitu dengan mengganti rantai bercabang dari Alkyl Benzen Sulfonat (ABS) menjadi rantai lurus Linier Alkyl Sulfonat (LAS). Selain itu senyawa fosfat diganti dengan senyawa non fosfat yang harganya relatif jauh lebih mahal seperti zeolit.

 

Pengertian

 

Detergent adalah bahan atau senyawa yang mampu meningkatkan daya cuci atau daya pembersih air terhadap benda padat.

 

Disamping itu, dikenal pula detergent bukan cairan (nonaquesus detergent), yaitu detergent yang mampu meningkatkan daya pembersih pelarut-pelarut organik (organik solvent).

 

Komposisi Kimiawi

 

Detergent (Syntetic detergent / syndet) mempunyai komposisi yang bervariasi, tergantung kepada dan untuk apa detergent digunakan.

 

Detergent umumnya digunakan sebagai bahan pencuci, umumnya terbentuk dari beberapa bahan dasar, yaitu :

 

  1. Surfactant Active Agent atau Surfactant, yaitu bahan/senyawa yang sangat besar kemampuannya untuk menurunkan permukaan (molekul-molekul) air. Pengaruh (sifat) fisik ini sangat menentukan nilai guna detergent.

 

  1. Builder or Binder, umumnya adalah garam-garam inorganik atau garam-garam alkalis yang berfungsi sebagai pembangun atau pengikat senyawa detergent dan meningkatkan daya pembersih surfactan, umumnya Binder adalah „bukan“ atau „tidak bersifat“ surfactans.

 

  1. Auxilary Components, yaitu bahan/senyawa tambahan yang berfungsi  Untuk meningkatkan nilai guna detergent.

 

Sabun atau Soap, menurut nilai gunanya adalah detergent alami (natural detergent); terbuat dari senyawa asam lemak alami, baik nabati maupun hewani, dengan basa dari alkali tanah atau logam. Dalam pengertian umum, „sabun“ adalah „sabun“ , bukan detergent; sedang „detergent“ adalah „Synthetic Detergent“ atau „Syndet

 

Karakteristik

 

  1. Surfactant

 

Surfactant mempunyai rantai molekul yang panjang, baik lurus maupun bercabang. Salah satu ujung rantainya adalah tidak larut dalam air (hydrophobic) yang berupa hydrocarbon nonpolar (nonpolar hydrocarbon), sementara ujung yang lain terdiri dari senyawa yang larut dalam air (hydrophilic) atau polar radikal, yang dapat terionisasi atau tidak terionisasi di dalam air. Dengan sifat surfactant seperti itu, maka detergent terbagi menjadi :

 

  1. Anionic detergent : Detergent/surfactant yang bermuatan negatif.

 

  1. Cationic detergent : Detergent/surfactant yang bermuatan positif.

 

  1. Nonionic detergent : Detergent/surfactant yang tidak bermuatan

 

Detergent/surfactant anionic dan nonionic adalah detergent yang umum digunakan saat ini.

 

Sabun mempunyai surfactant anionic yang polar radikalnya adalah senyawa karboxyl (carboxyl), sedang radikal polarnya adalah senyawa asam lemak dan garam alkali tanah atau garam inorganic dari logam. Oleh karena itu, sabun tidak atau kurang efektif dalam air sadah (Hard Water) dan air yang bersifat asam (pH rendah).

 

Detergent/surfactant anionic, detergent yang umum digunakan, mempunyai radikal/gugus polar yang bersifat hydrophilic terdiri dari garam alkali tanah atau logam dengan asam sulfanate atau asam sulfate. Oleh karena itu syndet tetap aktif dan efektif dalam air sadah maupun air yang ber pH rendah (asam).

 

                        R1 ———  C6 H4 ——– R2 SO3 Na

 

Nonionic Surfactan/detergent, umumnya berbentuk cairan. Detergent nonionik mempunyai buih sedikit atau hampir tidak berbuih. Detergent jenis ini digunakan untuk membersihkan peralatan yang efektif.

 

  1. Bahan Pembangun (Builder or Binder)

 

Bahan/senyawa pembangun atau pengikat yang umum digunakan adalah “conducsed phosphates” khususnya “Sodium Tripoly Phosphates” yang bersifat “defloculant” dan “Softener” di dalam air. Dengan demikian “Builder” memacu dan meningkatkan efektifitas dan daya guna detergent.

 

Syndet yang terdapat di pasar (dunia) umumnya terdiri dari 10 – 30% surfactant, 25 – 40% bahan pembangun senyawa (komplek) kalium phosphate, 5 – 7% bahan pelindung atau anti korosif sodiumsilikat, 3 – 6% bahan penstabil basa dari senyawa amida, 15 – 25 % air dan sebagian kecil (trace element) adalah bahan-bahan penunjang atau “additives”.  

 

 

 

 

 

  1. Bahan Penunjang (additive Agents)

 

Diantara bahan-bahan penunjang yang sangat penting diantaranya adalah bahan penstabil busa, bahan pemutih atau “Optical Brightner”, bahan “antideposition” dan bahan pewangi (parfume).

 

Bahan penstabil busa adalah senyawa organic yang mirip sifatnya dengan surfactant. Bahan pemutih atau “optical brighners” adalah senyawa yang tidak berwarna, yang (relatif) selama dalam proses pembuatan dan pemakaian detergent berkilau (floresce) dalam cahaya matahari, sehingga menghasilkan warna benda yang dicuci lebih cemerlang (brighter).

 

 

Persistensi dan Toksisitas

 

Detergent dengan bahan aktif (surfactant) yang mempunyai rantai bercabang daya persistensi atau keberadaannya di alam (perairan/tanah) relative lama.

 

Detergent tipe ini disebut “Hard Detergent” yang relative tidak mudah urai (non degradable), tetapi toksisitasnya terhadap biota (aquatic) relative rendah.

 

Detergent berbahan aktif (surfactant) yang mempunyai rantai lurus atau linier, persistensinya rendah, tetapi toksisitasnya terhadap biota (aquatik) relatif tinggi.

Detergent type ini disebut “Soft Detergent

 

 

Detergent di Indonesia

 

Dalam dekade terakhir detergent telah umum dan bahkan telah memasyarakat digunakan sebagai bahan pencuci atau bahan pembersih,  baik dalam kegiatan sehari-hari di rumah tangga maupun dalam kegiatan industri.

Sebagai contoh (Nirnama, 1979), penduduk Jakarta rata-rata menggunakan detergent sebanyak 1,87 kg per-bulan atau 62 gram per keluarga per hari. Penggunaan detergent ini cenderung meningkat setiap tahunnya.

Detergent yang umum dipasarkan dan digunakan oleh masyarakat Indonesia, lebih dari 93% adalah ABS (Alkyl Benzene Sulfonat) yang termasuk type Hard Detergent.

 

Bentuk formulanya adalah:

(1) Tepung (powder),    

(2) Pasta / paste yang dikenal sebagai “sabun colek” dan

(3) Cairan, contoh sabun cuci tangan dan bahan cuci

      rambut (shampoo).

 

Catatan :

Di negara maju ABS hampir sudah tidak digunakan (dilarang).

                       

                                          CH3                CH3                    CH3    Hydrophobic

                                           │                 │                       │

CH3 – CH2 – CH2 – CH – CH2- CH- CH2 – C – CH3

                                                                                    ……………………………

                                                                                                                        Hydrophilic

 

 
   

 

 

                                                                                               

    SO3Na

Secara khusus detergent merupakan “surface active agent” antara air dan minyak yang dapat menghilangkan kotoran dengan cara emulsi.

 

Anionics Surfactant merupakan komponen utama penyusun detergent. Komponen ini termasuk kelompok Alkyl Aryl Sulfonates (ABS dan ALS), yang paling banyak digunakan di Indonesia dan mempunyai struktur RC6 H4 SO3 – H+

 

Surfactant ini mempunyai daya pembersih kuat, murah, bahan mudah didapat, dan mempunyai sifat fisik yag sangat menarik.

 

Surfactant ini terdiri dari 10 -15 rantai karbon biasanya C11 dan C12.  yang terikat pada lingkaran benzene dengan posisi cabang pada kelompok sulfonat HSO3 atau NaH4SO3H+ (Na) yang membuat sulit terurai secara biologis oleh mikroorganisme.

 

Sedangkan Linier Alkyl Sulfonat (LAS) adalah ABS yang linier dengan 10 atau lebih rantai karbon lurus, sehingga mudah terurai secara biologis oleh mikroorganisme.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komponen detergent yang biasa terdapat di pasaran bebas tersaji pada table berikut ini :

 

 

Tabel 1. Prosentase Komposisi Bahan Penyusun

              Detergent

 

Jenis

Komponen Penyusun

Eropa

Amerika

Anionics

LAS / MBAS

5 – 10

10 – 15

Nonionics

Alkylthoxylates

2 – 10

10 – 15

Builders

STTP , Zeolit

10 – 35

0 – 5

Bleaches

Perborate

10 – 35

 

Activator

Taed

0 – 5

 

Polymer

 

< 0,3

0 – 3

Brightners

 

2 – 6

< 0,3

Silicate

 

2 – 6

< 0,3

Silicones

 

< 1

< 1

 

 

Komposisi Sabun Detergent yang dipasarkan di Indonesia umumnya, adalah :

 

Alkyl (Dedosil) Benzene Sulfonat………………………….           25%

Sodium triphosphate………………………………………….. 32%     

Sodium sulfat……………………………………………………..            16%

Sodium silikat

Flourescent agent    } ………………………………………… 2,5%

Parfum           

Air ……………………………………………………………………          15%

Carrier (berbagai bahan/senyawa) ………………………      9,5%

 

 

Dampak Detergent

 

Detergent dan atau limbah rumah tangga dan industri yang tertampung di perairan dapat menimbulkan dampak lingkungan (environmental impact), sebagai berikut :

 

  1. Lingkungan perairan (fisiko kimiawi air)

 

  1. Kekeruhan

 

Detergent di dalam air berada dalam bentuk terlarut dan teremulsi (sebagian besar teremulsi). Secara langsung maupun tidak langsung, detergent meningkatkan kekeruhan air.

 

Secara langsung, yaitu dalam bentuk partikel-partikel terkoloid, detergent membaurkan sinar matahari (solar beam) yang masuk ke dalam kolom air, akibatnya kekeruhan air meningkat.

 

Secara tidak tidak langsung detergent meningkatkan kadar fosfat di dalam air, sehingga dapat meningkatkan kesuburan perairan, komunitas dan kelimpahan plankton nabati dan tumbuhan air (terutama yang mengapung) akan meningkat.

 

Peningkatan tingkat kekeruhan air sejalan dengan peningkatan kadar/kandungan detergent di dalam air dengan model eksponensial.

 

  1. Kelarutan Oksigen

 

Pengaruh detergent terhadap kandungan oksigen terlarut dalam air diduga karena pengaruh langsung dan tidak langsung. Pengaruh langsung diduga karena menurunnya tegangan permukaan (surface layer) atau lapisan antara (interface layer) hydrosfer dengan atmosfer sehingga daya difusi udara (oksigen) ke dalam air meningkat.

 

Pengaruh tidak langsung, pada siang hari, diduga karena peningkatan kesuburan perairan sehingga kelimpahan komunitas fitoplankton meningkat dan melalui fotosintesa, kandungan oksigen terlarut dalam air meningkat pula.

 

  1. Kesuburan Perairan

 

Bahan/senyawa pembentuk (builder) atau pengikat (binder) detergent adalah senyawa (poly) phosphate.

 

Senyawa polyphosphate oleh mikroba akuatik (khususnya bakteri) dan sinar matahari (photo degradation) dirubah menjadi orthophosphat, sehingga perairan mengalami euthrophikasi.

 

  1. Sumberdaya ikan / organisme air

 

Toksisitas kronis detergent terhadap ikan/organisme air, adalah :

 

  1. Menurunkan nafsu makan
  2. Mengganggu pernafasan
  3. Menurunkan kelangsungan hidup embryo dan daya tetas telur serta larva
  4. Menghambat laju pertumbuhan
  5. Merusak organ pembentuk darah (hati dan spleen); terbentuk erythrocyt muda
  6. Iritasi epithelium insang  dan kulit

PENCEMARAN DETERGENT

PENCEMARAN DETERGENT

 

 

PENDAHULUAN

 

Pemakaian detergent akhir-akhir ini meningkat dengan pesat sejalan dengan laju pertumbuhan industri dan populasi penduduk.

 

Detergent digunakan sebagai pembersih, baik untuk pencucian peralatan (cleaning) di industri-industri maupun rumah tangga.

 

Detergent yang masih banyak dan dominant digunakan di Indonesia adalah jenis Dodecyl  Benzen Sulfat (DBS) Based yang mempunyai zat yang sangat sulit terdegradasi (terurai) secara biologis (non biodegradable).

 

Formulasi detergent jenis ini terdiri dari komponen utama Dodecyl Benzen Sulfonat dan senyawa Polyphospat.

 

Dampak yang ditimbulkan oleh pemakaian formula deterjen tersebut apabila dibuang tanpa diolah terlebih dahulu adalah penurunan kualitas perairan.

 

Hal ini disebabkan Alkyl Benzen Sulfonat (ABS) yang sulit terurai dan buih (foam) dari senyawa polyphosphat yang berlebih, sehingga dapat menggganggu proses pelarutan oksigen (O2) ke dalam air dan kesuburan yang berlebih (eutrophycation) di perairan.

 

Umumnya komponen utama penyusun detergen adalah Natrium Dodecyl Benzen Sulfanat (NaDBS) dan Sodium Tri Polyphosphat (STPP) yang bersifat sangat sulit terdegradasi secara alamiah oleh perairan.

 

Akan tetapi senyawa NaDBS dan STPP dapat membentuk endapan dengan logam-logam alkali tanah dan logam-logam transisi.

 

Belum banyak usaha untuk menangani pencemaran perairan yang disebabkan oleh detergent di Indonesia.

 

Di negara maju usaha untuk menangani pencemaran detergent telah dilakukan dengan mensubtitusi komponen-komponen utama formula detergent dengan bahan bersifat biodegradable, yaitu dengan mengganti rantai bercabang dari Alkyl Benzen Sulfonat (ABS) menjadi rantai lurus Linier Alkyl Sulfonat (LAS). Selain itu senyawa fosfat diganti dengan senyawa non fosfat yang harganya relatif jauh lebih mahal seperti zeolit.

 

Pengertian

 

Detergent adalah bahan atau senyawa yang mampu meningkatkan daya cuci atau daya pembersih air terhadap benda padat.

 

Disamping itu, dikenal pula detergent bukan cairan (nonaquesus detergent), yaitu detergent yang mampu meningkatkan daya pembersih pelarut-pelarut organik (organik solvent).

 

Komposisi Kimiawi

 

Detergent (Syntetic detergent / syndet) mempunyai komposisi yang bervariasi, tergantung kepada dan untuk apa detergent digunakan.

 

Detergent umumnya digunakan sebagai bahan pencuci, umumnya terbentuk dari beberapa bahan dasar, yaitu :

 

  1. Surfactant Active Agent atau Surfactant, yaitu bahan/senyawa yang sangat besar kemampuannya untuk menurunkan permukaan (molekul-molekul) air. Pengaruh (sifat) fisik ini sangat menentukan nilai guna detergent.

 

  1. Builder or Binder, umumnya adalah garam-garam inorganik atau garam-garam alkalis yang berfungsi sebagai pembangun atau pengikat senyawa detergent dan meningkatkan daya pembersih surfactan, umumnya Binder adalah „bukan“ atau „tidak bersifat“ surfactans.

 

  1. Auxilary Components, yaitu bahan/senyawa tambahan yang berfungsi  Untuk meningkatkan nilai guna detergent.

 

Sabun atau Soap, menurut nilai gunanya adalah detergent alami (natural detergent); terbuat dari senyawa asam lemak alami, baik nabati maupun hewani, dengan basa dari alkali tanah atau logam. Dalam pengertian umum, „sabun“ adalah „sabun“ , bukan detergent; sedang „detergent“ adalah „Synthetic Detergent“ atau „Syndet

 

Karakteristik

 

  1. Surfactant

 

Surfactant mempunyai rantai molekul yang panjang, baik lurus maupun bercabang. Salah satu ujung rantainya adalah tidak larut dalam air (hydrophobic) yang berupa hydrocarbon nonpolar (nonpolar hydrocarbon), sementara ujung yang lain terdiri dari senyawa yang larut dalam air (hydrophilic) atau polar radikal, yang dapat terionisasi atau tidak terionisasi di dalam air. Dengan sifat surfactant seperti itu, maka detergent terbagi menjadi :

 

  1. Anionic detergent : Detergent/surfactant yang bermuatan negatif.

 

  1. Cationic detergent : Detergent/surfactant yang bermuatan positif.

 

  1. Nonionic detergent : Detergent/surfactant yang tidak bermuatan

 

Detergent/surfactant anionic dan nonionic adalah detergent yang umum digunakan saat ini.

 

Sabun mempunyai surfactant anionic yang polar radikalnya adalah senyawa karboxyl (carboxyl), sedang radikal polarnya adalah senyawa asam lemak dan garam alkali tanah atau garam inorganic dari logam. Oleh karena itu, sabun tidak atau kurang efektif dalam air sadah (Hard Water) dan air yang bersifat asam (pH rendah).

 

Detergent/surfactant anionic, detergent yang umum digunakan, mempunyai radikal/gugus polar yang bersifat hydrophilic terdiri dari garam alkali tanah atau logam dengan asam sulfanate atau asam sulfate. Oleh karena itu syndet tetap aktif dan efektif dalam air sadah maupun air yang ber pH rendah (asam).

 

                        R1 ———  C6 H4 ——– R2 SO3 Na

 

Nonionic Surfactan/detergent, umumnya berbentuk cairan. Detergent nonionik mempunyai buih sedikit atau hampir tidak berbuih. Detergent jenis ini digunakan untuk membersihkan peralatan yang efektif.

 

  1. Bahan Pembangun (Builder or Binder)

 

Bahan/senyawa pembangun atau pengikat yang umum digunakan adalah “conducsed phosphates” khususnya “Sodium Tripoly Phosphates” yang bersifat “defloculant” dan “Softener” di dalam air. Dengan demikian “Builder” memacu dan meningkatkan efektifitas dan daya guna detergent.

 

Syndet yang terdapat di pasar (dunia) umumnya terdiri dari 10 – 30% surfactant, 25 – 40% bahan pembangun senyawa (komplek) kalium phosphate, 5 – 7% bahan pelindung atau anti korosif sodiumsilikat, 3 – 6% bahan penstabil basa dari senyawa amida, 15 – 25 % air dan sebagian kecil (trace element) adalah bahan-bahan penunjang atau “additives”.  

 

 

 

 

 

  1. Bahan Penunjang (additive Agents)

 

Diantara bahan-bahan penunjang yang sangat penting diantaranya adalah bahan penstabil busa, bahan pemutih atau “Optical Brightner”, bahan “antideposition” dan bahan pewangi (parfume).

 

Bahan penstabil busa adalah senyawa organic yang mirip sifatnya dengan surfactant. Bahan pemutih atau “optical brighners” adalah senyawa yang tidak berwarna, yang (relatif) selama dalam proses pembuatan dan pemakaian detergent berkilau (floresce) dalam cahaya matahari, sehingga menghasilkan warna benda yang dicuci lebih cemerlang (brighter).

 

 

Persistensi dan Toksisitas

 

Detergent dengan bahan aktif (surfactant) yang mempunyai rantai bercabang daya persistensi atau keberadaannya di alam (perairan/tanah) relative lama.

 

Detergent tipe ini disebut “Hard Detergent” yang relative tidak mudah urai (non degradable), tetapi toksisitasnya terhadap biota (aquatic) relative rendah.

 

Detergent berbahan aktif (surfactant) yang mempunyai rantai lurus atau linier, persistensinya rendah, tetapi toksisitasnya terhadap biota (aquatik) relatif tinggi.

Detergent type ini disebut “Soft Detergent

 

 

Detergent di Indonesia

 

Dalam dekade terakhir detergent telah umum dan bahkan telah memasyarakat digunakan sebagai bahan pencuci atau bahan pembersih,  baik dalam kegiatan sehari-hari di rumah tangga maupun dalam kegiatan industri.

Sebagai contoh (Nirnama, 1979), penduduk Jakarta rata-rata menggunakan detergent sebanyak 1,87 kg per-bulan atau 62 gram per keluarga per hari. Penggunaan detergent ini cenderung meningkat setiap tahunnya.

Detergent yang umum dipasarkan dan digunakan oleh masyarakat Indonesia, lebih dari 93% adalah ABS (Alkyl Benzene Sulfonat) yang termasuk type Hard Detergent.

 

Bentuk formulanya adalah:

(1) Tepung (powder),    

(2) Pasta / paste yang dikenal sebagai “sabun colek” dan

(3) Cairan, contoh sabun cuci tangan dan bahan cuci

      rambut (shampoo).

 

Catatan :

Di negara maju ABS hampir sudah tidak digunakan (dilarang).

                       

                                          CH3                CH3                    CH3    Hydrophobic

                                           │                 │                       │

CH3 – CH2 – CH2 – CH – CH2- CH- CH2 – C – CH3

                                                                                    ……………………………

                                                                                                                        Hydrophilic

 

 
   

 

 

                                                                                               

    SO3Na

Secara khusus detergent merupakan “surface active agent” antara air dan minyak yang dapat menghilangkan kotoran dengan cara emulsi.

 

Anionics Surfactant merupakan komponen utama penyusun detergent. Komponen ini termasuk kelompok Alkyl Aryl Sulfonates (ABS dan ALS), yang paling banyak digunakan di Indonesia dan mempunyai struktur RC6 H4 SO3 – H+

 

Surfactant ini mempunyai daya pembersih kuat, murah, bahan mudah didapat, dan mempunyai sifat fisik yag sangat menarik.

 

Surfactant ini terdiri dari 10 -15 rantai karbon biasanya C11 dan C12.  yang terikat pada lingkaran benzene dengan posisi cabang pada kelompok sulfonat HSO3 atau NaH4SO3H+ (Na) yang membuat sulit terurai secara biologis oleh mikroorganisme.

 

Sedangkan Linier Alkyl Sulfonat (LAS) adalah ABS yang linier dengan 10 atau lebih rantai karbon lurus, sehingga mudah terurai secara biologis oleh mikroorganisme.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komponen detergent yang biasa terdapat di pasaran bebas tersaji pada table berikut ini :

 

 

Tabel 1. Prosentase Komposisi Bahan Penyusun

              Detergent

 

Jenis

Komponen Penyusun

Eropa

Amerika

Anionics

LAS / MBAS

5 – 10

10 – 15

Nonionics

Alkylthoxylates

2 – 10

10 – 15

Builders

STTP , Zeolit

10 – 35

0 – 5

Bleaches

Perborate

10 – 35

 

Activator

Taed

0 – 5

 

Polymer

 

< 0,3

0 – 3

Brightners

 

2 – 6

< 0,3

Silicate

 

2 – 6

< 0,3

Silicones

 

< 1

< 1

 

 

Komposisi Sabun Detergent yang dipasarkan di Indonesia umumnya, adalah :

 

Alkyl (Dedosil) Benzene Sulfonat………………………….           25%

Sodium triphosphate………………………………………….. 32%     

Sodium sulfat……………………………………………………..            16%

Sodium silikat

Flourescent agent    } ………………………………………… 2,5%

Parfum           

Air ……………………………………………………………………          15%

Carrier (berbagai bahan/senyawa) ………………………      9,5%

 

 

Dampak Detergent

 

Detergent dan atau limbah rumah tangga dan industri yang tertampung di perairan dapat menimbulkan dampak lingkungan (environmental impact), sebagai berikut :

 

  1. Lingkungan perairan (fisiko kimiawi air)

 

  1. Kekeruhan

 

Detergent di dalam air berada dalam bentuk terlarut dan teremulsi (sebagian besar teremulsi). Secara langsung maupun tidak langsung, detergent meningkatkan kekeruhan air.

 

Secara langsung, yaitu dalam bentuk partikel-partikel terkoloid, detergent membaurkan sinar matahari (solar beam) yang masuk ke dalam kolom air, akibatnya kekeruhan air meningkat.

 

Secara tidak tidak langsung detergent meningkatkan kadar fosfat di dalam air, sehingga dapat meningkatkan kesuburan perairan, komunitas dan kelimpahan plankton nabati dan tumbuhan air (terutama yang mengapung) akan meningkat.

 

Peningkatan tingkat kekeruhan air sejalan dengan peningkatan kadar/kandungan detergent di dalam air dengan model eksponensial.

 

  1. Kelarutan Oksigen

 

Pengaruh detergent terhadap kandungan oksigen terlarut dalam air diduga karena pengaruh langsung dan tidak langsung. Pengaruh langsung diduga karena menurunnya tegangan permukaan (surface layer) atau lapisan antara (interface layer) hydrosfer dengan atmosfer sehingga daya difusi udara (oksigen) ke dalam air meningkat.

 

Pengaruh tidak langsung, pada siang hari, diduga karena peningkatan kesuburan perairan sehingga kelimpahan komunitas fitoplankton meningkat dan melalui fotosintesa, kandungan oksigen terlarut dalam air meningkat pula.

 

  1. Kesuburan Perairan

 

Bahan/senyawa pembentuk (builder) atau pengikat (binder) detergent adalah senyawa (poly) phosphate.

 

Senyawa polyphosphate oleh mikroba akuatik (khususnya bakteri) dan sinar matahari (photo degradation) dirubah menjadi orthophosphat, sehingga perairan mengalami euthrophikasi.

 

  1. Sumberdaya ikan / organisme air

 

Toksisitas kronis detergent terhadap ikan/organisme air, adalah :

 

  1. Menurunkan nafsu makan
  2. Mengganggu pernafasan
  3. Menurunkan kelangsungan hidup embryo dan daya tetas telur serta larva
  4. Menghambat laju pertumbuhan
  5. Merusak organ pembentuk darah (hati dan spleen); terbentuk erythrocyt muda
  6. Iritasi epithelium insang  dan kulit

Analisis Karakteristik Tipe Pantai di Gorontalo,Sulawesi Tengah Danang Eko

Ke samping

Analisis Karakteristik Tipe Pantai di Gorontalo,

Sulawesi Tengah

 

Danang Eko Prasetyo

26020210141013

Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Semarang

Email : danang_prasetyo08@yahoo.co.id

 

 

Abstrak

 

Pengamatan dan analisa karakteristik pantai di Sulawesi Tengah dengan  menggunakan pendekatan citra satelit Google Earth. Dari hasil pengamatan citra satelit di wilayah Sulawesi Tengah didapatkan hasil bahwa karakteristik pantai lebih mendominasi pantai di Gorontalo seperti. Hal ini dikarenakan adanya sungai yang ditemukan di sekitar wilayah pantai di Sulawesi Tengah. Sungai mengangkut material sedimen dari darat dan terendapkan di wilayah pantai.

 

 

  1. 1.      Pendahuluan

 

      Benua Maritim Indonesia terletak diantara benua Australia dan Asia serta membatasi Samudra Pasifik dan Hindia (Gambar 1-1). Busur kepulauan Indonesia merupakan untaian pulau di suatu perairan dalam maupun dangkal, terdiri dari 17.805 buah pulau yang memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 80.000 km.  Kepulauan terbentuk oleh berbagai proses geologi yang berpengaruh kuat pada pembentukan morfologi pantai, sementara letaknya di kawasan iklim tropis memberi banyak ragam bentang rupa pantai dengan banyak ragam pula tutupan biotanya.

     

      Penggolongan pantai dirasakan tidak cukup dengan hanya berdasar bentang rupa dan tutupan biotanya, namun perlu mempertimbangkan pula beberapa hal lain, seperti sumber daya yang mendukung disekelilingnya, gejala alam yang mengendalikan pembentukan (genesa)nya serta perubahan yang mengiringinya khususnya dari pengaruh kegiatan manusia (antropogenik).

     

      Pengenalan melalui penggolongan pantai dari berbagai alasan ini dapat membantu pemahaman saling keterkaitan dari proses pembentukan pantai, biotanya sumberdaya alamnya, peruntukan hingga usaha konservasi dan pengelolaan berkelanjutannya.

     

      Memahami genesa seutuhnya suatu morfologi pantai, di atas mana kemudian kegiatan manusia tumbuh, akan dapat membantu dalam penataannya lebih lanjut sebagai kota yang bukan hanya saja nyaman dan aman karena terdukung kebutuhannya, namun juga tidak menelan sumberdaya sekitarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      Latar Belakang

Wilayah provinsi Sulawesi Tengah sebelum jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda merupakan sebuah Pemerintahan Kerajaan yang terdiri atas 15 kerajaan di bawah kepemimpinan para raja yang selanjutnya dalam sejarah Sulawesi Tengah dikenal dengan julukan Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat.

Semenjak tahun 1905, wilayah Sulawesi Tengah seluruhnya jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda, dari Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat, kemudian oleh Pemerintah Hindia Belanda dijadikan Landschap-landschap atau Pusat-pusat Pemerintahan Hindia Belanda yang meliputi, antara lain:

  1. Poso Lage di Poso
  2. Lore di Wianga
  3. Tojo di Ampana
  4. Pulau Una-una di Una-una
  5. Bungku di Bungku
  6. Mori di Kolonodale
  7. Banggai di Luwuk
  8. Parigi di Parigi
  9. Moutong di Tinombo
  10. Tawaeli di Tawaeli
  11. Banawa di Donggala
  12. Palu di Palu
  13. Sigi/Dolo di Biromaru
  14. Kulawi di Kulawi
  15. Tolitoli di Tolitoli

Dalam perkembangannya, ketika Pemerintahan Hindia Belanda jatuh dan sudah tidak berkuasa lagi di Sulawesi Tengah serta seluruh Indonesia, Pemerintah Pusat kemudian membagi wilayah Sulawesi Tengah menjadi 3 (tiga) bagian, yakni:

  1. Sulawesi Tengah bagian Barat, meliputi wilayah Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Pembagian wilayah ini didasarkan pada Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi.
  2. Sulawesi Tengah bagian Tengah (Teluk Tomini), masuk Wilayah Karesidenan Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1919, seluruh Wilayah Sulawesi Tengah masuk Wilayah Karesidenen Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1940, Sulawesi Tengah dibagi menjadi 2 Afdeeling yaitu Afdeeling Donggala yang meliputi Tujuh Onder Afdeeling dan Lima Belas Swapraja.
  3. Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk Wilayah Karesedenan Sulawesi Timur Bau-bau.

Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964 terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Propinsi Sulawesi Tengah sebagai Provinsi yang otonom berdiri sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya Provinsi Sulawesi Tengah.

Dengan perkembangan Sistem Pemerintahan dan tutunan Masyarakat dalam era Reformasi yang menginginkan adanya pemekaran Wilayah menjadi Kabupaten, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan melalui Undang-undang Nomor 11 tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan. Kemudian melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2002 oleh Pemerintah Pusat terbentuk lagi 2 Kabupaten baru di Provinsi Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Tojo Una-Una. Kini berdasarkan pemekaran wilayah kabupaten, provinsi ini terbagi menjadi 10 daerah, yaitu 9 kabupaten dan 1 kota.

Sulawesi Tengah juga memiliki beberapa sungai, diantaranya sungai Lariang yang terkenal sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Juga terdapat danau yang menjadi obyek wisata terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.

Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna yang sekaligus menjadi obyek penelitian bagi para ilmuwan dan naturalis.

Ibukota Sulawesi Tengah adalah Palu. Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut.

                       Gambar 1.1.  Peta Sulawesi Tengah

  1. 3.    Pantai Talise di Palu, Sulawesi Tengah

 

Pantai Talise di Palu Sulawesi Tengah merupakan obyek wista pantai dengan memiliki panorama alam yang indah hamparan teluk dan pegunungan yang begitu memesona. Selain itu, pantai ini sangat cocok untuk kegiatan olah raga, seperti: berenang, selancar angin (Wind Surfing), Sky air, menyelam, dan lain sebagainya.

 

Pantai Talise sebagai tempat tamasya adalah pilihan yang paling murah dan mudah karena selain tidak memerlukan biaya, lokasinya teramat mudah untuk dicapai yaitu di tengah kota yang akses jalan yang sudah teraspal. Keberadaan yang dekat dengan pusat kota menjadikan pantai ini dikunjungi banyak pendatang maupun masyarakat Palu sendiri. Berkunjung di siang hari agak kurang cocok, karena cuaca di Palu umumnya terik dan angin bertiup sangat kencang saat jam 12 siang lewat. Pemandangan indah di Pantai Talise saat matahari menjellang terbit. Pantai ini enak dikunjungi saat sore hari menjelang matahari terbenam dan saat sore hari sambil menikmati makanan kecil dan minuman. Pada sore hari dan malam hari, Pantai ini juga dijadikan tempat rekreasi keluarga.

 

Gambar 1.2.    Pantai Talise di Palu, Sulawesi Tenggara

 

  1. 4.    Metode Pembahasan

Metode pembahasan dilakukan dengan analisa data menggunakan metode deskriptif yaitu melalui penguraian data-data yang disertai dengan gambar sebagai media berdasar pada teori normatif yang ada. Analisa data dilakukan melalui beberapa tahap yang meliputi :

a) Tahap pengungkapan masalah berdasar data-data yang tersedia.

b) Tahap pemecahan masalah melalui analisa data disertai penguraian dengan media gambar.

c) Tahap kesimpulan atau output data yang merupakan hasil pembahasan dan konsep akhir perencanaan dan perancangan bangunan.

 

  1. 5.    Pembahasan

 

Berdasarkan data-data yang diperoleh yaitu maka gelombang pada pantai Talise relatif kecil. Topografi di pantai ini juga landai sehingga jenis gelombang pecah yang terjadi di pantai ini tergolong spilling.

Arus pada pantai Talise tidak terlalu deras. Hal ini terjadi karena pada pantai Talise, angin dan gelombang yang terjadi sangat tenang. Sedimen pada pantai Talise mengandung sedikit kadar magnetik namun banyak pecahan karang sehingga pasirnya berwarna putih dan ukuran butirnya lebih besar dan keruncingan butir sedimen tersebut tajam. Pemandangan alam di Pantai Talise juga sangat mendukung untuk dikembangkannya wisata pantai. Pantai Talise memiliki sumberdaya karang serta biota lain yang hidup didalamnya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Diessel, C.F.K.,  1986. On  the  correlation  between  coalfacies and depositional environments. Proceedings 20th Symposium of Department Geology, University of NewCastle, New South Wales, h. 19-22.

 

Gafoer, S.dan Pardede, R., 1988. Geologi Lembar Baturaja, skala 1 : 250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

 

Kusnama, Andi Mangga, S., dan Sukarna, D., 1992. Tertiary stratigraphy and tectonic evolution of southern Sumatra. Geological  Society  of Malaysia, Bulletin,  33,  h.  143-152.

 

Kusnama, 2003. The signiicance of sedimentary rocks of the Bengkulu Basin in the development of the Fore Arc Basin, Sumatra. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral , XII (126-132), h. 2-13.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sistem Informasi Geografi (SIG)/Geographic Information System (GIS)

Sistem Informasi Geografi (SIG) atau Geographic Information System (GIS) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra, 2000). Sedangkan menurut Anon (2001) Sistem Informasi geografi adalah suatu sistem Informasi yang dapat memadukan antara data grafis (spasial) dengan data teks (atribut) objek yang dihubungkan secara geogrfis di bumi (georeference). Disamping itu, SIG juga dapat menggabungkan data, mengatur data dan melakukan analisis data yang akhirnya akan menghasilkan keluaran yang dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan dengan geografi.

Sistem Informasi Geografis dibagi menjadi dua kelompok yaitu sistem manual (analog), dan sistem otomatis (yang berbasis digital komputer). Perbedaan yang paling mendasar terletak pada cara pengelolaannya. Sistem Informasi manual biasanya menggabungkan beberapa data seperti peta, lembar transparansi untuk tumpang susun (overlay), foto udara, laporan statistik dan laporan survey lapangan. Kesemua data tersebut dikompilasi dan dianalisis secara manual dengan alat tanpa komputer. Sedangkan Sistem Informasi Geografis otomatis telah menggunakan komputer sebagai sistem pengolah data melalui proses digitasi. Sumber data digital dapat berupa citra satelit atau foto udara digital serta foto udara yang terdigitasi. Data lain dapat berupa peta dasar terdigitasi (Nurshanti, 1995).

Pengertian GIS/SIG saat ini lebih sering diterapkan bagi teknologi informasi spasial atau geografi yang berorientasi pada penggunaan teknologi komputer. Dalam hubungannya dengan teknologi komputer, Arronoff (1989) dalam Anon (2003) mendifinisikan SIG sebagai sistem berbasis komputer yang memiliki kemampuan dalam menangani data bereferensi geografi yaitu pemasukan data, manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan kembali), memanipulasi dan analisis data, serta keluaran sebagai hasil akhir (output). Sedangkan Burrough, 1986 mendefinisikan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai sistem berbasis komputer yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, mengelola, menganalisis dan mengaktifkan kembali data yang mempunyai referensi keruangan untuk berbagai tujuan yang berkaitan dengan pemetaan dan perencanaan. Komponen utama Sistem Informasi Geografis dapat dibagi kedalam 4 komponen utama yaitu: perangkat keras (digitizerscannerCentral Procesing Unit(CPU), hard-disk, dan lain-lain), perangkat lunak (ArcView, Idrisi, ARC/INFO, ILWIS, MapInfo, dan lain-lain), organisasi (manajemen) dan pemakai (user). Kombinasi yang benar antara keempat komponen utama ini akan menentukan kesuksesan suatu proyek pengembangan Sistem Informasi Geografis.

Aplikasi SIG dapat digunakan untuk berbagai kepentingan selama data yang diolah memiliki refrensi geografi, maksudnya data tersebut terdiri dari fenomena atau objek yang dapat disajikan dalam bentuk fisik serta memiliki lokasi keruangan (Indrawati, 2002).

Tujuan pokok dari pemanfaatan Sistem Informasi Geografis adalah untuk mempermudah mendapatkan informasi yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Ciri utama data yang bisa dimanfaatkan dalam Sistem Informasi Geografis adalah data yang telah terikat dengan lokasi dan merupakan data dasar yang belum dispesifikasi (Dulbahri, 1993).

Data-data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut dalam bentuk digital, dengan demikian analisis yang dapat digunakan adalah analisis spasial dan analisis atribut. Data spasial merupakan data yang berkaitan dengan lokasi keruangan yang umumnya berbentuk peta. Sedangkan data atribut merupakan data tabel yang berfungsi menjelaskan keberadaan berbagai objek sebagai data spasial.

Penyajian data spasial mempunyai tiga cara dasar yaitu dalam bentuk titik, bentuk garis dan bentuk area (polygon). Titik merupakan kenampakan tunggal dari sepasang koordinat x,y yang menunjukkan lokasi suatu obyek berupa ketinggian, lokasi kota, lokasi pengambilan sample dan lain-lain. Garis merupakan sekumpulan titik-titik yang membentuk suatu kenampakan memanjang seperti sungai, jalan, kontus dan lain-lain. Sedangkan area adalah kenampakan yang dibatasi oleh suatu garis yang membentuk suatu ruang homogen, misalnya: batas daerah, batas penggunaan lahan, pulau dan lain sebagainya.

Struktur data spasial dibagi dua yaitu model data raster dan model data vektor. Data raster adalah data yang disimpan dalam bentuk kotak segi empat (grid)/sel sehingga terbentuk suatu ruang yang teratur. Data vektor adalah data yang direkam dalam bentuk koordinat titik yang menampilkan, menempatkan dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik, garis atau area (polygon) (Barus dan Wiradisastra, 2000).

Lukman (1993) menyatakan bahwa sistem informasi geografi menyajikan informasi keruangan beserta atributnya yang terdiri dari beberapa komponen utama yaitu:

1. Masukan data merupakan proses pemasukan data pada komputer dari peta (peta topografi dan peta tematik), data statistik, data hasil analisis penginderaan jauh data hasil pengolahan citra digital penginderaan jauh, dan lain-lain. Data-data spasial dan atribut baik dalam bentuk analog maupun data digital tersebut dikonversikan kedalam format yang diminta oleh perangkat lunak sehingga terbentuk basisdata (database). Menurut Anon (2003) basisdata adalah pengorganisasian data yang tidak berlebihan dalam komputer sehingga dapat dilakukan pengembangan, pembaharuan, pemanggilan, dan dapat digunakan secara bersama oleh pengguna.

2. Penyimpanan data dan pemanggilan kembali (data storage dan retrieval) ialah penyimpanan data pada komputer dan pemanggilan kembali dengan cepat (penampilan pada layar monitor dan dapat ditampilkan/cetak pada kertas).

3. Manipulasi data dan analisis ialah kegiatan yang dapat dilakukan berbagai macam perintah misalnya overlay antara dua tema peta, membuat buffer zone jarak tertentu dari suatu area atau titik dan sebagainya. Anon (2003) mengatakan bahwa manipulasi dan analisis data merupakan ciri utama dari SIG. Kemampuan SIG dalam melakukan analisis gabungan dari data spasial dan data atribut akan menghasilkan informasi yang berguna untuk berbagai aplikasi

4. Pelaporan data ialah dapat menyajikan data dasar, data hasil pengolahan data dari model menjadi bentuk peta atau data tabular. Menurut Barus dan wiradisastra (2000) Bentuk produk suatu SIG dapat bervariasi baik dalam hal kualitas, keakuratan dan kemudahan pemakainya. Hasil ini dapat dibuat dalam bentuk peta-peta, tabel angka-angka: teks di atas kertas atau media lain (hard copy), atau dalam cetak lunak (seperti file elektronik).

Menurut Anon (2003) ada beberapa alasan mengapa perlu menggunakan SIG, diantaranya adalah:

1. SIG menggunakan data spasial maupun atribut secara terintegrasi

2. SIG dapat digunakansebagai alat bantu interaktif yang menarik dalam usaha meningkatkan pemahaman mengenai konsep lokasi, ruang, kependudukan, dan unsur-unsur geografi yang ada dipermukaan bumi.

3. SIG dapat memisahkan antara bentuk presentasi dan basis data

4. SIG memiliki kemampuan menguraikan unsur-unsur yang ada dipermukaan bumi kedalam beberapa layer atau coverage data spasial

5. SIG memiliki kemapuan yang sangat baik dalam memvisualisasikan data spasial berikut atributnya

6. Semua operasi SIG dapat dilakukan secara interaktif

7. SIG dengan mudah menghsilkan peta-peta tematik

8. semua operasi SIG dapat di costumize dengan menggunakan perintah-perintah dalam bahaa script.

9. Peragkat lunak SIG menyediakan fasilitas untuk berkomunikasi dengan perangkat lunak lain

10. SIG sangat membantu pekerjaan yang erat kaitannya dengan bidang spasial dan geoinformatika.

Barus dan Wiradisastra (2000) juga mengungkapkan bahwa SIG adalah alat yang handal untuk menangani data spasial, dimana dalam SIG data dipelihara dalam bentuk digital sehingga data ini lebih padat dibanding dalam bentuk peta cetak, tabel atau dalam bentuk konvensional lainnya yang akhirnya akan mempercepat pekerjaan dan meringankan biaya yang diperlukan.

Sarana utama untuk penanganan data spasial adalah SIG. SIG didesain untuk menerima data spasial dalam jumlah besar dari berbagai sumber dan mengintergrasikannya menjadi sebuah informasi, salah satu jenis data ini adalah data pengindraan jauh. Pengindraan jauh mempunyai kemampuan menghasilkan data spasial yang susunan geometrinya mendekati keadaan sebenarnya dengan cepat dan dalam jumlah besar. Barus dan Wiradisastra (2000) mengatakan bahwa SIG akan memberi nilai tambah pada kemampuan pengindraan jauh dalam menghasilkan data spasial yang besar dimana pemanfaatan data pengindraan jauh tersebut tergantung pada cara penanganan dan pengolahan data yang akan mengubahnya menjadi informasi yang berguna.

Laporan Oseanografi Geologi

LAPORAN PRAKTIKUM OSEANOGRAFI GEOLOGI

MODUL GEOTEKTONIKA

 

 

 

 

OLEH:

DANANG EKO PRASETYO

26020210141013

 

 

 

                                                                                        


PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI

JURUSAN ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2013

 

 

MODUL I : GEOTEKTONIKA

 

TOPIK I

  1. 1.    Berdasarkan Gambar 1 diatas, uraian ada berapa lempeng di bumi kita dan sebutkan mulai dari lempeng terbesar sampai lempeng terkecil.

Jawab :

Lempeng yang ada di bumi kita ada 15 Lempeng, yaitu ;

IDENTIFIKASI JENIS KERAK BUMI

  • Lempeng Eurasia
  • Lempeng Amerika Utara
  • Lempeng Pasifik
  • Lempeng Antarctic
  • Lempeng Afrika
  • Lempeng Amerika Selatan
  • Lempeng Australia
  • Lempeng Nazca
  • Lempeng Philipina
  • Lempeng India
  • Lempeng Arap
  • Lempeng Scotia
  • Lempeng Caribbean
  • Lempeng Cocos
  • Lempeng Juan de Fuca

 

  1. 2.    Berdasarkan Gambar 1 diatas ,uraikan sifat-sifat lempeng tersebut di atas mulai dari terbesar sampai terkecil.

Jawab :

Secara garis besar Lempeng di dunia dibagi 2 yaitu :

a. Lempeng Benua

Terdiri dari lempeng Eurasia, Afrika, India, Arab, Amerika Selatan

Sifat dari lempeng benua ini, sebagai berikut :

  • Lempeng Samudra, tersusun oleh mineral yang kaya akan Si, Fe, Mg yang disebut sima.
  • Ketebalan Lempeng Samudra berkisar antara 5-15 km dengan beratj enis rata-rata 3 gm/cc.
  • Lempeng Samudra biasanya disebut lapisan basaltis karena batuan penyusunnya terutama berkomposisi basalt.

 

b. Lempeng Samudra

Lempeng Pasifik, Antartika, Nazca, Australia, Karibia, Amerika Utara, Scotia, Cocos, Juan de Fuca, Philipina.

Sifat dari lempeng samudera ini, sebagai berikut :

  • Lempeng Samudra, tersusun oleh mineral yang kaya akan Si, Fe, Mg yang Disebut sima.
  • Ketebalan Lempeng Samudra berkisar antara 5-15 km dengan berat jenis rata-rata 3 gm/cc.
  • Lempeng Samudra biasanya disebut lapisan basaltis karena batuan penyusunnya terutama berkomposisi basalt.

Kesimpulan

  1. Bumi tersusun oleh 18 lempeng yang saling berhubungan.
  2. Lempeng yang menyusun bumi dibagi menjadi dua kelompok yaitu lempeng samudera dan lempeng benua.
  3. Lempeng samudera tersusun oleh Si dan Mg yang disebut SIMA,sedangkan lempeng benua tersusun oleh Si dan Al yg disebut SIAL.

 

Lempeng di Bumi dapat terpecah-pecah karena adanya gerakan peristaltic bumi yang diakibatkan adanya revolusi bumi terhadap matahari dan rotasi bumi. Gerakan ini menyebabkan adanya gerakan menekan menarik bumi sehingga terjadi retakan yang terjadi pada kerak bumi, sehingga lempeng bumi terpecah pecah.

 

 

 

 

 

TOPIK II

1. Berdasarkan gambar 3 di atas, uraikan ada berapa gerak lempeng di bumi kita.

Jawab :

Divergen

Terjadi pada dua lempeng tektonik yang bergerak saling memberai (break apart).

Ketika sebuah lempeng tektonik pecah, lapisan litosfe rmenipis dan terbelah, membentuk batas divergen. Pada lempeng samudera, proses ini menyebabkan pemekaran dasar laut (seafloor spreading).

Sedangkan pada lempeng benua, proses ini menyebabkan terbentuknya lembah retakan (rift valley) akibat adanya celah antara kedua lempeng yang saling menjauh tersebut.

Konvergen

Terjadi apabila dua lempeng tektonik tertelan (consumed) kearah kerakbumi, yang mengakibatkan keduanya bergerak saling menumpu satu sama lain (one slip beneath another).

Wilayah dimana suatu lempeng samudra terdorong kebawah lempeng benua atau lempeng samudera lain disebut dengan zona tunjaman (subduction zones). Di zona tunjaman inilah sering terjadi gempa. Pematang gunung-api (volcanic ridges) dan parit samudra (oceanic trenches) juga terbentuk di wilayah ini.

Transform

Terjadi bila dua lempeng tektonik bergerak saling menggelangsar (slide each other), yaitu bergerak sejajar namun berlawanan arah. Keduanya tidak saling memberai maupun saling menumpu. Batas transform ini juga dikenal sebagai sesaru bahan-bentuk (transform fault).

Batas transform umumny berada di dasar laut, namun ada juga yang berada di daratan, salah satunya adalah Sesar San Andreas (San Andreas Fault) di California, USA.

Sesar ini merupakan pertemuan antara Lempeng Amerika Utara yang bergerak arah tenggara, dengan Lempeng Pasifik yang bergerak kearah barat laut.

 

Batas konvergen ada 3 macam, yaitu

  1. Antara lempeng benua dengan lempeng samudera,
  2. Antara dua lempeng samudra,
  3. Antara dua lempeng benua.

 

 

2. Berdasarkan gambar 3 di atas, uraikan interaksi lempeng tersebut antara kerak mana dengan kerak mana.

Jawab :

a. Divergen

Pematang Tengah-Atlantik (Mid-Atlantic Ridge) adalah salah satu contoh divergensi yang paling terkenal, membujur dari utara keselatan di sepanjang Samudra Atlantik, membatasi Benua Eropa dan Afrika dengan Benua Amerika.

Pasifik Timur antara Pasifik dengan Nazca, Pasifik dengan Cocos, Nazca dengan Antartic, Indo-Australia dengan Antartic.

b. Konvergen

Konvergen terjadi antar alempeng pasifik dengan Amerika Selatan , Pasifik dengan Amerika Utara, Pasifik dengan Eurasia, Pasifik dengan Indo-Australia, Indo- Australia dengan Eurasia, India dengan Eurasia membentuk rangkaian Ring of Fire bumi ( Pegunungan lingkar pasifik)

c. Transform

Interaksi Transform terjadi di atlantik ridges, pasifik timur ridges, antartik – pasifik ridges, pasifik-nazca ridges, pasifik-cocos ridges.

 

3. Uraikan sifat-sifat gerakan lempeng tersebut diatas.

Jawab :

a. Antara lempeng Pasifik dengan lempeng Nazca saling menjauh menimbulkan East Pacific Rise.

b. Antara Lempeng Amerika Selatan dengan lempeng Nazca saling mendekat membentuk palung peru-cili dan pegunungan andes.

c. Antara lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia saling mendekat membentuk palung Jawa.

d. Antara lempeng Amerika utara dengan lempeng pasifik saling bergeser membentuk sesar San Andreas

Kesimpulan

  1. Ada tiga jenis pergerakan lempeng yang terjadi dibumi yaitu divergen,konvergen dan transform.
  2. Divergen merupakan pergerakan lempeng saling menjauh.
  3. Konvergen merupakan pergerakan lempeng saling mendekat yang menyebabkan tejadinya tumbukan antardua lempeng bumi.
  4. Transform merupakan pergerakan menyaping antar dua lempeng benua, sehingga yang semula terlihat sejajar menjadi tidak sejajar.

TOPIK III

1. Berdasarkan Gambar 4 diatas, uraikan ada berapa lempeng di Indonesia.

Jawab :

ANALISIS JENIS DAN POSISI EFEK GERAKAN KERAK BUMI

  • Lempeng Eurasia
  • Lempeng Indo-Australia
  • Lempeng Pasifik
  • Lempeng Philipina

2. Ada efek gerakan apa yang terjadi di Indonesia.

Jawab :

  • Subduksi
  • Gesekan

3. Uraikan sifat-sifat efek gerakan lempeng tersebut diatas.

Jawab :

  • Subduksi

Zona subduksi atau penekukan terjadi ketika lempeng samudra bertabrakan dengan lempeng benua, dan menelusup ke bawah lempeng benua tersebut ke dalam astenosfer. Lempeng litosfer samudra mengalami subduksi karena memiliki densitas yang lebih tinggi. Lempeng ini kemudian mencair dan menjadi magma.

Subduksi menyebabkan terbentuknya palung laut, misalnya palung Mariana, serta menyebabkan terbentuknya pegunungan. Gunung berapi yang terjadi sepanjang zona perbatasan ini, seperti misalnya Puncak Saint Helens dan Krakatau, disebut sebagai gunung berapi zona subduksi.

Gesekan Basal drag

Arus konveksi berskala besar di mantel atas disalurkan melalui astenosfer, sehingga pergerakan didorong oleh gesekan antara astenosfer dan litosfer.

Slab suction

Arus konveksi lokal memberikan tarikan ke bawah pada lempeng di zona subduksi di palung samudera. Penyerotan lempengan (slab suction) ini bisa terjadi dalam kondisi geodinamik di mana tarikan basal terus bekerja pada lempeng ini pada saat ia masuk ke dalam mantel, meskipun sebetulnya tarikan lebih banyak bekerja pada kedua sisi lempengan, atas dan bawah

  1. 4.    Dampak apa saja yang terjadi akibat gerakan lempeng yang terjadi.

Jawab :

ü  Tunjaman antara lempeng indo-australia dengan lempeng Eurasia mengakibatkan tsunami aceh.

ü  Subduksi antara lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurosia menyebabkan terbentuknya pegunungan Bukit Barisan disepanjang pulau Sumatra, deretan gunung berapi di sepanjang pulau Jawa, Bali, Lombok, Sertaparit Samubra di Jawa.

Kesimpulan

  1. Indonesia merupakan tempat pertemuan tiga lempeng yaitu Eurasian plate, Pasifik plate dan Indian-Australian plate.
  2. Kondisi alam yang merupakan dampak dari pertemuan tiga lempeng tersebuat adalah di Indonesia terdapat deretan gunung berapi, adanya java trench, dan memiliki potensi bencana alam yang besar sperti tsunami, gempa bumi dan gunung meletus

 

 

 

 

 

TOPIK IV

  1. 1.        Uraikan dengan singkat prediksi sumber panas air samudera terletak dimana dan menyebar kearah mana.

Jawab :

Sumber panas air samudera dapat berasal dari palung kuril (kurile trench) Palung ini terbentuk sebagai akibat dari zona subduksi, pada akhir zaman Kapur, hingga menciptakan Kepulauan Kuril. Memanjang dari tiga persimpangan antara Patahan Ulakhan dan ke utara Palung Aleutian hingga ke Palung ke selatan Jepang.

 

  1. 2.        Uraikan perpindahan panas tersebut akan menimbulkan arus,sebutkan arus apa dan sumbernya dimana serta gambarkan prediksi kearah mana arus tersebut tersebar

Jawab :

Kerak bumi menutupi seluruh permukaan bumi. Namun, akibat adanya aliran panas yang mengalir di astenosfer menyebabkan kerak bumi pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Bagian-bagian itulah yang disebut lempeng kerak bumi (lempeng tektonik). Aliran panas tersebut untuk selanjutnya menjadi sumber kekuatan terjadinya pergerakan lempeng. Lempeng tektonik; merupakan dasar dari “terbangunnya” system kejadian gempa bumi, peristiwa gunung berapi, pemunculan gunung api bawah laut, dan peristiwa geologi lainnya.

Dari pergerakan lempeng tektonik ini akan mengakibatkan perbedaan tekanan. Tekanan berpengaruh terhadap densitas air laut. Maka arus yang terbentuk adalah Arus di KedalamanSamudera, disebabkanp erbedaan densitas diantara dua massa air laut yang berdekatan mengakibatkan gerakan vertical air laut serta menghasilkan gerakan massa air lautdalam ( deep water masses ) dengan melintasi samudera secara perlahan – lahan. Gerakan massa air laut dalam( arus laut dunia ) biasanya berdampak pada sirkulasi permukaan.

 

  1. 3.        Uraikan selain arus faktor oseanografis apa saja akibat adanya kondisi tektonik tersebut.

Jawab :

  • Gelombang

(gelombang tsunami)

 

  1. 4.        Uraikan dengan singkat faktor oseanografis dari pembahasan no.3 dengan gambar.

  Jawab :

Gelombang laut terjadi karena adanya perbedaan dari massa air dan massa udara yang kontak satu dengan yang lainnya dengan kepadatan yang berbeda. Gelombang laut besar/ gelombang tsunami adalah gelombang besar yang ditimbulkan oleh tenaga yang tiba-tiba dilepaskan oleh gempa bumi dasar laut atau letusan gunung api yang berada di laut. Dimana dalam letusan itu terdapat pergeseran lempeng tektonik. Dimana sumber gempa bumi berasa di laut dengan kedalaman gempa bumi dangkal yakni kurang dari 60 KM dengan kekuatan cukup besar yakni di atasa 6,0 SR dengan patahan turun (normal faulth). Gelombang tsunami mempunyai panjang gelombang yang sangat panjang sampai mencapai 200 kilometerdengan kecepatan sampai 800 kilometer per jam.

Kesimpulan

1. Sumber panas air samudera berasal dari celah hydrothermal di dasar samudera dan pemanasan oleh sinar matahari.

2. adanya perbedaan temperature di perairan menyebabkan terjadinya pergerakan massa air dan persebaran suhu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alfred Wegener .1966. The Origin of Continents and Oceans. Courier Dover. hlm. 246

Kennet.1982.Marine Geology. Prentice Hall Inc, Engewood Clifs, Mac. New York

Thomson W .1863. “On the secular cooling of the earth”. Philosophical Magazine 4 (25)

www.id.wikipedia.org/ diakses Kamis, 05 Januari 2013 Pukul 20.09 WIB

Jalur-jalur Seleksi Masuk Program S1 – D3 Universitas Diponegoro Tahun 2013

  PDF Print E-mail

1.  Seleksi Masuk Program Strata 1 (S1) Undip

Penerimaan mahasiswa baru Universitas Diponegoro tahun 2013 didasarkan pada:

  • Peraturan Pemerintah no. 66 tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
  • Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun 2010 tentang Pola Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana pada Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah, sistem penerimaan mahasiswa baru program sarjana pada perguruan tinggi dilakukan melalui seleksi secara nasional dan bentuk lain.
  • UU no 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Berdasarkan peraturan diatas maka proses seleksi penerimaan mahasiswa baru program S1 Undip tahun 2013 akan diatur melaluiseleksi secara nasional dan seleksi secara lokal / mandiri.

Jalur-jalur seleksi masuk ke Universitas Diponegoro program Strata 1 (S1) untuk tahun 2013 adalah sebagai berikut:

a. Seleksi Secara Nasional.
 
Seleksi nasional ini diselenggarakan dibawah tanggung Jawab langsung Pemerintah (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).
Sistem seleksi nasional adalah seleksi yang dilakukan oleh seluruh perguruan tinggi negeri yang diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia dalam bentuk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). SNMPTN 2013 merupakan satu-satunya pola seleksi nasional yang dilaksanakan oleh Panitia Pelaksana SNMPTN 2013 yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi Negeri dalam satu sistem yang terpadu. Biaya pelaksanaan SNMPTN 2013 ditanggung oleh Pemerintah, sehingga peserta tidak dipungut biaya pendaftaran.
detail informasi SNMPTN 2013 bisa di akses disini atau di web site resmi SNMPTN 2013 (www.snmtpn.ac.id)

 

b. Seleksi Bentuk lain dibawah tanggung jawab pengurus Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia

Seleksi Bentuk Lain ini adalah SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur ujian tertulis dan / atau keterampilan. Pendaftaran mulai dibuka sekitar  bulan Mei 2013. Seleksi ini dibawah tanggung jawab pengurus Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia. Untuk mengikuti ini seleksi ini biaya pendaftaran ditanggung peserta seleksi.

 

c. Seleksi secara Mandiri.

Seleksi ini adalah yang khusus dilakukan oleh Universitas Diponegoro dibawah tanggung jawab Rektor Universitas Diponegoro. Biaya Pendaftaran untuk seleksi mandiri Undip ditanggung oleh peserta seleksi. Jalur seleksi mandiri untuk tahun 2013 hanya Jalur UM (Ujian Mandiri). jalur ujian mandiri adalah jalur seleksi mandiri melalui tes tertulis untuk mengikuti program pendidikan S1 di undip. Pendaftaran akan dilakukan secara online akan dimulai sekitar bulan Juli 2013. Informasi pendaftaran bisa diakses menjelang pendaftaran di : http://um.undip.ac.id . Untuk tahun 2013 jalur mandiri PSSB Kemitraan tidak dibuka lagi.

2.  Seleksi Masuk Program Diploma III (D-III) Undip tahun 2013
 
Untuk seleksi masuk ke program Diploma III Undip tahun 2013 semuanya dilakukan secara lokal / mandiri dengan melalui jalur-jalur seleksi sebagai berikut:
  1. Jalur PSSB (Program Seleksi Siswa Berpotensi) Akademik untuk program Diploma III. Seleksi ini telah dibuka mulai 2 Januari 2013 sampai dengan 28 Februari 2013 secara online. Keterangan lengkap bisa dibaca di menu PSSB D3 di web site ini.
  2. Jalur UM D-III (Ujian Mandiri Diploma III) adalah jalur seleksi melalui tes tertulis untuk masuk ke program diploma III Undip. Pendaftaran akan dibuka sekitar bulan Juli 2013. Pendaftaran akan dilakukan secara online di web site :http://um.undip.ac.id

INSEKTISIDA ALAMI

INSEKTISIDA adalah bahan kimia atau non kimia yang digunakan untuk mengendalikan serangga. Keberadaan bahan non-kimia sebagai insektisida ini jenisnya bermacam-macam, seperti: jamur (ceolomomyces), tanaman air, sari bunga, sari tanaman, bakteri, protozoa (nosema), nematoda, dan virus.

Adanya kejelian dari para peneliti dengan memperhatikan suku-suku pedalaman yang mengoleskan tanaman tertentu di kulitnya untuk menghindari gigitan nyamuk, secara tidak langsung telah memberikan inspirasi dan merubah paradigma insektisida yang aman bagi lingkungan. Artinya, dalam bahan-bahan alami yang digunakan tersebut ada bahan-bahan kimia yang berfungsi sebagai insektisida.

Paling tidak, saat ini ada 5 jenis insektisida alami yang telah diteliti yaitu Piretrum, Nikotin, Rotenon, Limonene/d-limonene dan Azadirachtin.

Pertama, Piretrum. Bahan ini berasal dari ekstrak bunga chrysanthemum cinerariraefolium. Pertama kali ditemukan pada abad 19 di jaman perang Napoleon untuk mengendalikan kutu manusia. Cara kerja dari piretrum adalah knock down. Sifat piretrum jaman sekarang ditiru untuk formulasi insektisida jenis aerosol. Piretrum mempunyai 6 bahan aktif yang secara kolektif dikenal dengan piretrin.

Sifat piretrin sebagai insektisida kontak, tetapi nyaris tidak meninggalkan bekas (non-residual) bila permukaan yang diolesi terpapar oleh cahaya. Namun, bila permukaan di tempat gelap, zat ini akan bertahan maksimal 2 minggu. Tapi dikarenakan jumlah ekstrak bunga dari bahan alami ini terbatas, maka peneliti mensintetiskan piretrin dengan senyawa mirip piretrin yang sekarang dikenal dengan piretriod (oid = mirip dan pire = piretrin). Jadi, yang termasuk insektisida golongan piretroid saat ini adalah pensintetisan dari piretrin.

Negara penghasil piretrin di dunia adalah Kenya, Tasmania dan Australia. Di Indonesia sebelum maraknya piretroid digunakan piretrin dari ekstrak pyrethrum marc. Produsen sangat menyukai menggunakan piretrin dikarenakan harganya murah dan biaya produksinya pun rendah. Tapi, zat piretrin ini jumlahnya terbatas, sehingga pemakiaan bahan ini persentasinya kecil sampai sekarang.

Cara kerja piretrin adalah dengan dua tahap yaitu dengan meracuni serangga (knock down) kemudian mengganggu syaraf (blockade) serangga. Serangga biasanya lumpuh (knock down) tetapi dapat normal kembali bila tahap pertama bisa di atasi. Di sini, serangga tidak akan mati, tetapi bila serangga tidak bisa menetralkan tahap pertama maka jaringan syaraf akan terganggu dan akhirnya mati.

Kedua, Nikotin. Bila Anda seorang perokok, mungkin tidak asing lagi dengan nikotin ini. Nikotin adalah ekstrak yang berasal dari tembakau. Nikotin sangat efektif pada serangga-serangga berkulit lunak, seperti aphid dan ulat. Zat ini bahkan dibuat bubuknya (tobacco dust) yang digunakan untuk repelen anjing dan kelinci. Cara kerja dari nikotin adalah dengan membuat serangga menjadi kejang tetapi hanya terjadi di syaraf-syaraf pusatnya saja.

Ketiga, Rotenon. Bahan ini dibuat dari akar dua genus tanaman kacang-kacangan (legume). Yakni berupa Derris elliptica dari Asia Tenggara dan lonchocarpus spp. dari Amerika Selatan. Di Indonesia rotenon dikenal sebagai racun ikan pada tambak udang. Rotenon spesifik hanya membunuh ikan liar pada kolam-kolam atau tambak udang. Sebagai insektisida, rotenon ini merupakan racun kontak dan perut yang akan membuat serangga berhenti makan dan akhirnya mati. Cara kerja dari rotenon ini adalah menghambat enzim pernafasan dan metabolisme serangga.

Keempat, Limonene/d-limonene. Lomonene/d-limonene adalah nama latin dari ekstrak kulit jeruk. Insektisida ini paling efektif untuk mengendalikan hama hewan peliharaan, seperti membunuh tungau, pinjal dan caplak. Cara kerja dari Limonene/d-limonene ini mirip dengan piretrin, yaitu menggangu sistem syaraf namun tidak mengambat enzim.

Kelima, Azadirachtin. Bahan ini merupakan ekstrak dari biji tanaman mimna/neem (azadirachta indica). Zat ini efektif digunakan sebagai insektisida, fungisida, dan bakterisida. Cara kerja dari Azadirachtin adalah mengganggu pergantian kulit dengan menghambat metabolisme atau biosintesis ekdison.

Akhirnya, penulis berkeyakinan selain dari kelima ekstrak-ekstak tanaman di atas, masih banyak ekstrak tanaman yang belum diteliti sebagai insektisida alami. Di sinilah hemat penulis, perlunya peran seorang peneliti untuk selalu mencari hal baru atau mencari alternatif insektisida baru dari tanaman-tanaman yang ada di sekitar kita.