INSEKTISIDA ALAMI

INSEKTISIDA adalah bahan kimia atau non kimia yang digunakan untuk mengendalikan serangga. Keberadaan bahan non-kimia sebagai insektisida ini jenisnya bermacam-macam, seperti: jamur (ceolomomyces), tanaman air, sari bunga, sari tanaman, bakteri, protozoa (nosema), nematoda, dan virus.

Adanya kejelian dari para peneliti dengan memperhatikan suku-suku pedalaman yang mengoleskan tanaman tertentu di kulitnya untuk menghindari gigitan nyamuk, secara tidak langsung telah memberikan inspirasi dan merubah paradigma insektisida yang aman bagi lingkungan. Artinya, dalam bahan-bahan alami yang digunakan tersebut ada bahan-bahan kimia yang berfungsi sebagai insektisida.

Paling tidak, saat ini ada 5 jenis insektisida alami yang telah diteliti yaitu Piretrum, Nikotin, Rotenon, Limonene/d-limonene dan Azadirachtin.

Pertama, Piretrum. Bahan ini berasal dari ekstrak bunga chrysanthemum cinerariraefolium. Pertama kali ditemukan pada abad 19 di jaman perang Napoleon untuk mengendalikan kutu manusia. Cara kerja dari piretrum adalah knock down. Sifat piretrum jaman sekarang ditiru untuk formulasi insektisida jenis aerosol. Piretrum mempunyai 6 bahan aktif yang secara kolektif dikenal dengan piretrin.

Sifat piretrin sebagai insektisida kontak, tetapi nyaris tidak meninggalkan bekas (non-residual) bila permukaan yang diolesi terpapar oleh cahaya. Namun, bila permukaan di tempat gelap, zat ini akan bertahan maksimal 2 minggu. Tapi dikarenakan jumlah ekstrak bunga dari bahan alami ini terbatas, maka peneliti mensintetiskan piretrin dengan senyawa mirip piretrin yang sekarang dikenal dengan piretriod (oid = mirip dan pire = piretrin). Jadi, yang termasuk insektisida golongan piretroid saat ini adalah pensintetisan dari piretrin.

Negara penghasil piretrin di dunia adalah Kenya, Tasmania dan Australia. Di Indonesia sebelum maraknya piretroid digunakan piretrin dari ekstrak pyrethrum marc. Produsen sangat menyukai menggunakan piretrin dikarenakan harganya murah dan biaya produksinya pun rendah. Tapi, zat piretrin ini jumlahnya terbatas, sehingga pemakiaan bahan ini persentasinya kecil sampai sekarang.

Cara kerja piretrin adalah dengan dua tahap yaitu dengan meracuni serangga (knock down) kemudian mengganggu syaraf (blockade) serangga. Serangga biasanya lumpuh (knock down) tetapi dapat normal kembali bila tahap pertama bisa di atasi. Di sini, serangga tidak akan mati, tetapi bila serangga tidak bisa menetralkan tahap pertama maka jaringan syaraf akan terganggu dan akhirnya mati.

Kedua, Nikotin. Bila Anda seorang perokok, mungkin tidak asing lagi dengan nikotin ini. Nikotin adalah ekstrak yang berasal dari tembakau. Nikotin sangat efektif pada serangga-serangga berkulit lunak, seperti aphid dan ulat. Zat ini bahkan dibuat bubuknya (tobacco dust) yang digunakan untuk repelen anjing dan kelinci. Cara kerja dari nikotin adalah dengan membuat serangga menjadi kejang tetapi hanya terjadi di syaraf-syaraf pusatnya saja.

Ketiga, Rotenon. Bahan ini dibuat dari akar dua genus tanaman kacang-kacangan (legume). Yakni berupa Derris elliptica dari Asia Tenggara dan lonchocarpus spp. dari Amerika Selatan. Di Indonesia rotenon dikenal sebagai racun ikan pada tambak udang. Rotenon spesifik hanya membunuh ikan liar pada kolam-kolam atau tambak udang. Sebagai insektisida, rotenon ini merupakan racun kontak dan perut yang akan membuat serangga berhenti makan dan akhirnya mati. Cara kerja dari rotenon ini adalah menghambat enzim pernafasan dan metabolisme serangga.

Keempat, Limonene/d-limonene. Lomonene/d-limonene adalah nama latin dari ekstrak kulit jeruk. Insektisida ini paling efektif untuk mengendalikan hama hewan peliharaan, seperti membunuh tungau, pinjal dan caplak. Cara kerja dari Limonene/d-limonene ini mirip dengan piretrin, yaitu menggangu sistem syaraf namun tidak mengambat enzim.

Kelima, Azadirachtin. Bahan ini merupakan ekstrak dari biji tanaman mimna/neem (azadirachta indica). Zat ini efektif digunakan sebagai insektisida, fungisida, dan bakterisida. Cara kerja dari Azadirachtin adalah mengganggu pergantian kulit dengan menghambat metabolisme atau biosintesis ekdison.

Akhirnya, penulis berkeyakinan selain dari kelima ekstrak-ekstak tanaman di atas, masih banyak ekstrak tanaman yang belum diteliti sebagai insektisida alami. Di sinilah hemat penulis, perlunya peran seorang peneliti untuk selalu mencari hal baru atau mencari alternatif insektisida baru dari tanaman-tanaman yang ada di sekitar kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s